Jumat, 27 Juli 2012

ARTIKEL "POKOK-POKOK AJARAN MU'TAZILAH"

artikel agama islam
Pokok-pokok Ajaran Mu'tazilah
Al-Tawhid, yaitu ke-Maha-Esaan Tuhan. Tuhan Maha Esa, hanya kalau Tuhan betul-betul merupakan dzat yang unik, tiada yang serupa dengan-Nya. Oleh karena itu mereka menolak paham-paham yang membuat Tuhan tidak unik lagi, seperti adanya sifat, antropomorfisme, beautific vision, adanya yang qadim selain tuhan, dan sebagainya.
Al-'Adl yang berarti keadilan Tuhan. Kalau al-tawhid mengandung keunikan Tuhan dalam zat, maka paham keadilan Tuhan mengandung arti keunikan Tuhan dalam perbuatannya. Hanya Tuhan-lah yang berbuat adil. Segala kehendak dan perbuatan Tuhan tidak dapat bertentangan dengan paham keadilan. Paham keadilan Tuhan inilah yang menjadi titik tolak bagi rasioanalitas kaum Mu'tazilah mengenai pendapat-pendapat keagaman mereka. Dari ajaran dasar keadilan Tuhan inilah timbul paham kebebasan manusia dalam kehendak dan perbuatan, paham manusia bertanggungjawab atas perbuatan dan kelakuannya, paham al-shalih wa al-ashlah (wajib bagi tuhan berbuat baik kepada manusia), wajib bagi tuhan untuk mengirimkan nabi-nabi guna menyampaikan kepada manusia, apa yang tidak dapat diketahui akal, keadaan Tuhan tidak memberikan kepada manusia beban yang tak terpikul, terikatnya Tuhan kepada janji-janjinya, dan sebagainya.
Al-Wa'd wa al-wa'id, dalam arti Tuhan tidak akan adil kalau ia tidak memberikan pahala kepada orang yang berbuat baik dan kalau Dia tidak menghukum orang yang berbuat jahat. Dalam soal janji dan ancaman tuhan ini, terdapat paham kewajiban-kewajiban Tuhan. Tuhan wajib memberikan upah kepada orang yang baik dan wajib menghukum orang jahat, besok di akhirat. Apalagi dalam al-Qur'an, Tuhan telah menjanjikan yang demikian. Tidaklah adil kalau Tuhan memasukkan pelaku dosa ke surga dan pembuat kebajikan ke neraka, serta tidak menetapi janji dan ancaman-Nya. Hal demikian, kata Qadli al-Jabbar, akan membuat Tuhan menjadi berdusta, suatu hal yang mustahil.
Al-Manzilah bain al-manzilatain, yaitu posisi menengah bagi pembuat dosa besar; tidak berada di posisi mukmin, dan tidak pula posisi kafir, tetapi posisi Muslim yang terletak di antra keduanya. Tidak posisi surga tidak pula posisi siksa berat di neraka, akan tetapi posisi siksa ringan yang terletak di antara keduanya. Inilah keadilan menurut paham Mu'tazilah.
Al-Amr bi al-ma'ruf wa al-nahy 'an al-munkar, perintah berbuat baik dan larangan berbuat jahat. Ajaran dasar kelima ini hubungannya erat dengan pembinaan moral. Bahwa kaum mu'tazilah mementingkan pembinaan moral dapat dilihat dari pengertian mereka tentang iman. Yaitu pengakuan yang harus diikuti oleh perbuatan-perbuatan baik. Orang beriman tetapi berbuat jahat, bagi mereka tidak akan luput dari neraka. Yang masuk surga adalah orang yang imannya tercermin dalam perbuatan-perbuatan dan kelakuan baik. Untuk membina moral umat, mereka berpendapat bahwa amar al-ma'ruf wa al-nahy al-munkar (suatu bentuk kontrol sosial, wajib dijalankan, kalau dapat, cukup dengan seruan, tetapi kalau terpaksa, dengan kekerasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

mohon komentarnya untuk mengembangkan blog ini. terima kasih